Adatiga pilar utama dalam agama Islam yaitu: Islam, Iman, dan Ihsan. Islam adalah bersaksi tidak ada Tuhan yang haq disembah kecuali Allah SWT dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah SWT, mengerjakan shalat, membayar zakat, puasa di bulan Ramadhan, dan haji ke Baitullah bagi yang mampu. Iman adalah beriman (percaya) kepada Allah SWT
Penulis Rusdian Malik Berikut perbedaan sikap kaum salafi dan HTI: Salafi, mereka lebih fokus ke akidah dan ibadah, memurnikan dari sgala bid’ah dan penyimpangan.Mereka fokus dalam dakwah aja agar antum dapat hidayah. Meski berasa kayak hidup ke masa lalu kayak abad ke-6 atau ke-7 masehi lagi ya, tak apa-apa ikhwan fillah kaum
Kalautidak bermazhab, itu berarti jelas bukan Ahlussunnah wa Jama’ah. Dan dalam bidang tasawuf/akhlak, Aswaja menganut Imam Junaid al-Baghdadi dan Abu Hamid Al-Ghazali. Aswaja itu tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), I’tidal (tegak lurus) dan tasamuh (toleran). Aswaja itu tidak menyalahkan orang lain, tidak mengkafirkn orang lain.
harigini masih ada orang yang masih bertanya,apakah salafi/wahabi itu sesat? seperti memberikan pemahaman yang mendalam tentang hakikat aswaja dan bahayanya mengikuti faham- faham sesat yang banyak bermunculan melalui pertemuan- pertemuan khusus atau melalui majelis Dzikir, ketika Masyarakat berkumpul di Masjid untuk melaksanakan Shalat
Adaperubahan butir-butir Mabadi Khaira Ummah dari yang semula berisi 3 butir, menjadi 5 butir; Terdapat perbedaan konteks zaman antara masa gerakan Mabadi Khaira Ummah pertama kali dicetuskan dan masa kini, di mana dalam rentang waktu itu telah terjadi perubahan besar, baik di lingkungan NU sendiri sebagai organisasi Islam Aswaja, maupun
Dịch Vụ Hỗ Trợ Vay Tiền Nhanh 1s. Bismillah, Salafy adalah mereka yang setidaknya faham dan mengamalkan beberapa nash ini Allah Azza wa jalla berfirman ”Berpeganglah kamu semua pada tali Allah Al Qur’an dan Sunnah, dan janganlah kamu berpecah belah” Al Qur’an. Surat Ali Imron 103 “ Hai orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya dan Ulil Amri diantara kamu, Kemudian jika kamu berlainan/berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia kepada Kitabullah Al Qur’an dan Rasul Sunnahnya jika kalian benar2 beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.” Al Qur’an. Surat An Nisa’ 59 “Katakanlah , "Inilah jalan ku, aku dan orang-orang yang mengikuti ku menyeru kalian kepada Allah Ta`ala dengan ilmu yang nyata .Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk oarng-orang yang musyrik” QS. Yusuf 108 “Wahai orang2 yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhan Total, dan jangan kamu ikuti langkah2 syetan, sesungguhnya ia syetan adalah musuhmu yang nyata” QS. Al Baqoroh ayat 208 Dari Mu’awiah Radhiallahu anhu, ia berkata Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam berdiri diantara kami lalu bersabda “Ketahuilah bahwa umat sebelum kalian dari golongan ahli kitab berpecah-pecah menjadi 72 firqoh/golongan, dan sesungguhnya umatku sampai dengan hari kiamat nanti akan terpecah menjadi 73 firqoh/golongan, dimana dari 73 golongan ini, yang 72 golongan terancam neraka dan hanya satu golongan yang menjadi ahli surga. Ketika para sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang siapa golongan yang hanya satu itu, Rasulullah menjawab “Al jama’ah, yang aku dan para sahabatku ada diatasnya/berpijak pada sunnahku”. SHAHIH, Riwayat Ahmad, Abu Daud, dishahihkan oleh Al Albani Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ”Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu amalan dalam urusan agama yang bukan datang dari kami Allah dan Rasul-Nya, maka tertolaklah amalnya itu”. SHAHIH, riwayat Muslim Juz 5,133 Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda “Amma ba’du! Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah Al-Qur’an dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa sallam. Dan sejelek-jelek urusan adalah yang baru / yang diada-adakan Muhdast dan setiap yang muhdast adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” SHAHIH, riwayat Muslim Juz 3, 11, riwayat Ahmad Juz 3, 310, riwayat Ibnu Majah no 45 Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya Syetan telah berputus asa untuk disembah dinegri kalian, tetapi ia senang ditaati menyangkut hal selain itu diantara amal perbuatan yang kalian anggap sepele, maka berhati-hatilah. Sesungguhnya aku telah meninggalkan/mewariskan pada kalian apa2 yang jika kalian berpegang teguh padanya, maka kalian tidak akan sesat selamanya, yaitu kitab Allah dan Sunnah NabiNya” HASAN, riwayat Bukhari, Muslim, Al Hakim, Adz zahabi, Albani Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, patuh dan taat walaupun dipimpin budak Habasyi, karena siapa yang masih hidup dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah pada Khulafaur Rasyidin yang memberi petunjuk berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang baru yang diada-adakan kepada hal-hal yang baru itu adalah kebid'ahan dan setiap kebid'ahan adalah kesesatan”. [SHAHIH. Dawud 4608, At-Tirmidziy 2676 dan Ibnu Majah 44,43,Al-Hakim 1/97] “Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang putih, malamnya bagaikan siangnya, tidak ada seorang pun sepeninggalku yang berpaling darinya melainkan ia akan binasa….”[SHAHIH. HR Ibnu Majah 1/16 no. 43 dan lain-lain, dari hadits Al-Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu anhu. Ini lafazh dalam Sunan Ibnu Majah. Lihat juga As-Silsilah Ash-Shahihah 2/610 no. 937] Sedangkan ASWAJA, mereka menyandarkan pemahaman mereka kepada tokoh yang mereka anggap sebagai pencetus faham mereka ini yaitu Abu Al Hasan Asy 'ariy dan Al Maturidi. Mereka sebenarnya boleh jadi faham dengan dalil2 diatas, namun mereka memahaminya dengan sudut faham yang lain, dengan pemahaman yang berbeda, dimana mereka menganggap dan meyakini adanya bid'ah hasanah. Oleh sebab itu mereka banyak mengamalkan hal2 bid'ah hasanah yang menurut mereka TIDAK ADA DALIL LARANGANNYA, seperti tahlilan, yasinan, maulidan, ngalap berkah, sholawatan, niat sholat pake usholli dan lain2 banyak sekali ragamnya. Mereka juga berkeyakinan bahwa Allah bukan diatas Arasy, namun bagi mereka Allah adalah ada pada segala tempat tanpa arah. CONTOH makhluk 'ASWAJA’ yang bisanya cuma berkata2 tapi tidak mampu mempertanggungjawabkannya, aswaja style, banyak bicara, ketika ditanya, diam seribu bahasa, atau jika merespon pun, isinya tidak jauh dari celaan, hinaan, dan hahahihi, mari kita sama sama buktikan perkataan saya, apakah makhluk ini berilmu ? ataukah sama saja dengan habitatnya, makhluk tercela yang suka mencela ulama dan jaahil bodohnya mungkin bukan kuadrat lagi, tapi lebih bodoh dari orang bodoh itu sendiri ciri ciri ASWAJA’ aliran warisan jahiliyah 1. lidahnya ga pernah berhenti menyebut kata wahabi’ –> perhatikan setiap postingan dan komen2nya, selalu saja menyebut/menulis kata wahabi’, sepertinya mereka cinta’ sekali dengan kata ini, tapi ya itu, mereka itu sebenarnya cinta dengan kata wahabi’ ini, tapi mereka cuma enggan’ mengakuinya.. D 2. sasarannya random ada yang menasihati dia, pasti disebutnya wahabi’ –> ga percaya ? silahkan lihat postingan atau komen2nya, ada foto orang arab lagi ngapain, langsung di post sama dia dan dikatakan wahabi, atau ada yg ngebom ga jelas di negeri ini, mereka menyebutnya, itu wahabi, ada yang menasihati agar mereka berbicara dengan adab, lagi lagi mereka mengatakan orang itu, wahabi’, intinya, siapapun yang menasihati mereka dan melakukan perkara-perkara yang buruk, mereka langsung otomatis’ menyematkan kata wahabi’ terhadap perkara tersebut 3. perhatikan cara interaksinya jauh sekali dari adab dan etika –> kalau yang ini udh ga perlu diragukan lagi, silahkan kunjungi postingan2nya, dan lihat komen2 disana, isinya semua tidak jauh dari hinaan, ejekan, hujatan, dan kata2 kotor lainnya, sungguh sangat bertolak belakang dengan klaim mereka yaitu ahlus sunnah’, masa ada ahlus sunnah komennya kayak gitu ? hanya orang berakal yang mampu melihat kebodohan ini, dan hanya orang bodoh kuadrat yang percaya dan membenarkan apa yang mereka klaim sebagai kebenaran 4. ketika diajak diskusi mereka tiba tiba diam, menghina, atau berputar-putar ini biasanya dari kalangan sufi –> sungguh perkara yang sangat sia-sia mengajak mereka bicara baik2 dan berdiskusi, karena 3 hal diataslah yang akan mereka terapkan, ga percaya ? buktikan sendiri, ajaklah mereka berdiskusi satu satu di postingan mereka, pasti yang akan anda terima adalah hinaan, makian, ejekan, tertawaan, setelah itu mereka asyik berputar2 seputar 3 hal itu dan akhirnya kalian akan membuang-buang waktu meladeninya 5. coba tanyakan apa itu wahabi’ mereka tidak akan mampu menjawabnya dengan benar –> kenapa ? karena mereka memang jaahil bodoh, cuma modal internet sama bodoh’ aja, jadi ketika kita tanya, “bisa dijelaskan kepada saya apa itu wahabi? “, mereka pasti tidak akan mampu menjawabnya, dan lagi lagi, anda akan menerima apa yang sudah saya jelaskan di point 6. buat mereka semua perkara dalam ibadah yang baru itu baik atau bid’ah hasanah padahal semua bid’ah itu sesat, dan yang namanya sesat mana ada yang hasanah baik iya toh??? –> Buktinya apa ? lihat saja, mereka meminta-minta kepada mayit, mereka katakan ini baik hasanah, merayakan ultah Rasul, mereka katakan ini baik, bentuk cinta katanya, padahal para shahabat radhiyallahu anhum yang begitu cinta sama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ga pernah tuh ngerayain, Rasulullah aja ga pernah ngerayain ultahnya nabi2 terdahulu, even orangtua beliau, tapi ketika ditanya, ada yg bilang, loh apa salahnya, kan cuma ngerayain, itu kan bukan ibadah, tapi kenyataannya ?? didalam acara maulid diisi dengan ibadah, lah semua ibadah butuh dalil, sedangkan ibadah yg mereka lakukan di dalam maulid tanpa dalil, lantas ini bagaimana ? dan masih banyak lagi segala perkara2 yang bahkan jatuh kepada syirik mereka klaim sebagai bid’ah hasanah sesat yang baik, sekarang silahkan tanya kepada anak kecil, “nak… apakah ada kesesatan yang baik?” anak kecil pun akan bingung, karena fitrah dari akal manusia itu adalah menolak segala bentuk keanehan, begitu juga dengan sesat yang baik’, apakah kalian yang jauh lebih dewasa lebih bodoh dari anak kecil ? silahkan kembali berfikir, sesat yang baik ? come on 7. jika ada yang berhujjah pun hujjah nya lemah bagai sarang laba-laba –> Biasanya mereka memakai dalil dari hadits2 dhoif, palsu, kata’ kata kyai saya, kata ustad saya, kata Habib saya, hawa nafsu bukankah baik, daripada, apakah salah, dan jika mereka menggunakan dalil yang shahih pun, lihat pemahamannya = pasti bathil, mereka memahami nash sesuai nafsunya sendiri tanpa merujuk kepada ulama Salaf yang mengikuti umat terdahulu yang berada di atas kebenaran, silahkan buktikan sendiri perkataan saya ini === Adapun Wahabi adalah sebutan "tuduhan” bagi mereka2 berpegang teguh pada as sunnah dan memerangi syirik sebagaimana dakwah yang di canangkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang mana dakwah beliau adalah memurnikan Islam yang “Anti Syirik” dan “Anti Bid'ah”. Sebutan tuduhan “wahabi” ini di prakarsai oleh musuh2 dakwah tauhid yang mana mereka adalah “Ahlul bid'ah” dan"Ahlusy Syirik" SIAPA PENCETUS PERTAMA ISTILAH WAHHABI? Suatu hal yang jelas bahwa Inggris merupakan negara barat pertama yang cukup interest menggelari dakwah ini dengan “Wahhabisme”, alasannya karena dakwah ini mencapai wilayah koloni Inggris yang paling berharga, yaitu India. Banyak ulamâ` di India yang memeluk dan menyokong dakwah Imâm Ibn Abdil Wahhâb. Juga, Inggris menyaksikan bahwa dakwah ini tumbuh subur berkembang dimana para pengikutnya telah mencakup sekelompok ulamâ` ternama di penjuru dunia Islâm. Selama masa itu, Inggris juga mengasuh sekte Qâdhiyânî dalam rangka untuk mengganti mainstream ideologi Islam. [Lihat Dr. Muhammâd ibn Sa’d asy-Syuwai’ir, Tashhîh Khathâ’ Târîkhî Haula`l Wahhâbiyyah, Riyâdh Dârul Habîb 2000; hal. 55]. Mereka berhasrat untuk memperluas wilayah kekuasaan mereka di India dengan mengandalkan sebuah sekte ciptaan mereka sendiri, Qâdhiyânî, yaitu sekte yang diciptakan, diasuh dan dilindungi oleh Inggris. Sekte yang tidak menyeru jihad untuk mengusir kolonial Inggris yang berdiam di India. Oleh karena itulah, ketika dakwah Imâm Ibn Abdil Wahhâb mulai menyebar di India, dan dengannya datanglah slogan jihad melawan penjajah asing, Inggris menjadi semakin resah. Mereka pun menggelari dakwah ini dan para pengikutnya sebagai Wahhâbi’ dalam rangka untuk mengecilkan hati kaum muslimin di India yang ingin turut bergabung dengannya, dengan harapan perlawanan terhadap penjajah Inggris tidak akan menguat kembali.* Banyak Ulamâ` yang mendukung dakwah ini ditindas, beberapa dibunuh dan lainnya dipenjara.** Catatan * Hunter dalam bukunya yang berjudul “The Indian Musalmans” mencatat bahwa selama pemberontakan orang India tahun 1867, Inggris paling menakuti kebangkitan muslim Wahhâbi’ yang tengah bangkit menentang Inggris. Hunter menyatakan di dalam bukunya bahwa “There is no fear to the British in India except from the Wahhabis, for they are causing disturbances againts them, and agitating the people under the name of jihaad to throw away the yoke of disobedience to the British and their authority.” [“Tidak ada ketakutan bagi Inggris di India melainkan terhadap kaum Wahhâbi, karena merekalah yang menyebabkan kerusuhan dalam rangka menentang Inggris dan mengagitasi membangkitkan semangat umat dengan atas nama jihâd untuk memusnahkan penindasan akibat dari ketidaktundukan kepada Inggris dan kekuasaan mereka.”] Lihat Hunter, “The Indian Musalmans”, di London Trűbner and Co., 1871; Calcuta Comrade Publishers, 1945, 2nd edn.; New Delhi Rupa & Co., 2002 Reprint ** Di Bengal selama masa ini, banyak kaum muslimin termasuk tua, muda dan para wanita, semuanya disebut dengan “Wahhâbi” dan dianggap sebagai “pemberontak” yang melawan Inggris kemudian digantung pada tahun 1863-1864. Mereka yang dipenjarakan di Pulau Andaman dan disiksa adalah para ulama dari komunitas Salafî-Ahlul Hadîts, seperti Syaikh Ja’far Tsanisârî, Syaikh Yahyâ Alî 1828-1868, Syaikh Ahmad Abdullâh 1808-1881, Syaikh Nadzîr Husain ad-Dihlawî dan masih banyak lagi lainnya. Muhammad Ja’far, Târikhul Ajîb dan Târikhul Ajîb – History of Port Blair Nawalkshore Press, 1892, 2nd edition. Suatu hal yang perlu dicatat, di dalam surat-surat dan laporan-laporan yang dikirimkan kepada ayah tirinya dan pemerintahan Utsmâniyyah Ottomans, Ibrâhîm Basyâ Pasha, anak angkat Muhammad Alî Basyâ Pasha, juga menggunakan istilah Wahhâbi, Khowârij dan Bid’ah Heretics’ untuk menggambarkan dakwah Muhammad Ibn Abdul Wahhâb dan Negara Saudî [Lihat ibid, hal. 70]. Hal ini, tentu saja, terjadi sebelum Ibrâhîm Basyâ memberontak dan menyerang khilâfah Utsmâniyyah dan hampir saja menghancurkannya di dalam proses pemberontakannya. Dr. Nâshir Tuwaim mengatakan “Kaum Orientalis terdahulu, menggunakan istilah Wahhâbiyyah, Wahhâbî, Wahhâbis’ di dalam artikel-artikel dan buku-buku mereka untuk menyandarkan menisbatkan istilah ini kepada gerakan dan pengikut Syaikh Muhammad Ibn Abdul Wahhâb. Beberapa diantara mereka bahkan memperluasnya dengan memasukkan istilah ini sebagai judul buku mereka, semisal Burckhardt, Brydges dan Cooper, atau sebagai judul artikel mereka, seperti Wilfred Blunt, Margoliouth, Samuel Zwemer, Thomas Patrick Hughes, Samalley dan George Rentz. Mereka melakukan hal ini walaupun sebagian dari mereka mengakui bahwa musuh-musuh dakwah ini menggunakan istilah ini untuk menggambarkannya, padahal para pengikut Syaikh Muhammad Ibn Abdul Wahhâb tidak menyandarkan diri mereka kepada istilah ini. * Margoliouth sebagai contohnya, ia mengaku bahwa istilah Wahhâbiyyah” digunakan oleh musuh-musuh dakwah selama masa hidup pendiri’-nya, kemudian digunakan secara bebas oleh orang-orang Eropa. Walau demikian, ia menyatakan bahwa istilah ini tidak digunakan oleh para pengikut dakwah ini di Jazîrah Arab. Bahkan, mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai “Muwahhidŭn”. [ Margoliouth, Wahabiya, hal. 618, 108. Artikel karya Margoliouth yang berjudul Wahhabis’ ini juga dapat ditemukan di dalam The First Encyclopaedia of Islam, 1913-1936 New York Brill, 1987 Reprint , karya Houtsma, Arnold, R. Basset, R. Hartman, Wensinck, Gibb, W. Heffening dan E. Lêvi-Provençal ed dan The Shorter Encyclopaedia of Islam Leiden and London Brill and Luzac & Co., 1960, hal. 619 karya Gibb, Kramers dan E. Lêvi-Provençal ed. Artikel ini juga dicetak ulang dalam o Reading, UK Ithaca Press, 1974 o Leiden Brill, 1997 o Dan cetakan pertama, Leiden and London Bril and Luzac & Co., dan New York Cornel University Press, 1953.] Biar bagaimanapun, siapa saja yang menggunakan istilah ini , baik dari masa lalu sampai saat ini, telah melakukan beberapa kesalahan, diantaranya * Mereka menyebut dakwah Muhammad bin Abdul Wahhâb sebagai Wahhâbiyyah’, walaupun dakwah ini tidak dimulai oleh Abdul Wahhâb, namun oleh puteranya Muhammad. * Pada awalnya, Abdul Wahhâb tidak menyetujui dakwah puteranya dan menyanggah beberapa ajaran puteranya. Walau demikian, tampak pada akhir kehidupannya bahwa beliau akhirnya menyetujui dakwah puteranya. Semoga Alloh merahmatinya. Musuh-musuh dakwah, tidak menyebut dakwah ini dengan sebutan Muhammadiyyah –terutama semenjak Muhammad, bukan ayahnya, Abdul Wahhâb, memulai dakwah ini- karena dengan menyebutkan kata ini, Muhammad, mereka bisa mendapatkan simpati dan dukungan dakwah, ketimbang permusuhan dan penolakan. Istilah “Wahhâbi”, dimaksudkan sebagai ejekan dan untuk meyakinkan kaum muslimin supaya tidak mengambil ilmu atau menerima dakwah Muhammad ibn Abdul Wahhâb, yang telah digelari oleh mereka sebagai mubtadi’ ahli bid’ah yang tidak mencintai Rasulullâh Shallâllâhu alaihi wa Sallam. Walaupun demikian, penggunaan istilah ini telah menjadi sinonim dengan seruan dakwah untuk berpegang al-Qur`ân dan as-Sunnah dan suatu indikasi memiliki penghormatan yang luar biasa terhadap salaf, yang berdakwah untuk mentauhîdkan Allôh semata serta memerintahkan untuk mentaati semua perintah Rasulullâh Shallâllâhu alaihi wa Sallam. Hal ini adalah kebalikan dari apa yang dikehendaki oleh musuh-musuh dakwah. [Lihat Qodhî Ahmad ibn Hajar Alu Abŭthâmi al-Bŭthâmi, Syaikh Muhammad Ibn Abdul Wahhâb His Salafî Creed and Reformist Movement, hal. 66]. Pada belakang hari, banyak musuh-musuh dakwah Imam Muhammad Ibn Abdul Wahhâb akhirnya menjadi kagum terhadap dakwah dan memahami esensi dakwahnya yang sebenarnya, melalui membaca buku-buku dan karya-karyanya. Mereka mempelajari bahwa dakwah ini adalah dakwah Islam yang murni dan terang, yang Alloh mengutus semua Nabi-Nya alaihim`us Salâm untuknya untuk dakwah tauhîd ini. Perlu dicatat pula, bahwa diantara karakteristik mereka yang berdakwah kepada tauhîd adalah, adanya penghormatan yang sangat besar terhadap al-Qur`ân dan sunnah Nabi. Mereka dikenal sebagai kaum yang mendakwahkan untuk berpegang kuat dengan hukum Islam, memurnikan tashfiyah dan mendidik tarbiyah bahwa peribadatan hanya milik Allôh semata serta memberikan respek terhadap para sahabat nabî dan para ulamâ` Islâm. Mereka adalah kaum yang dikenal sebagai orang yang lebih berilmu di dalam masalah ilmu Islam secara mendetail daripada kebanyakan orang selain mereka. Telah menjadi suatu pengetahuan umum bahwa dimana saja ada seorang salafî bermukim, kelas-kelas yang mengajarkan ilmu sunnah tumbuh subur. Sekiranya istilah “Wahhâbî” ini digunakan untuk para pengikut dakwah, bahkan sekalipun dimaksudkan untuk mengecilkan hati ummat agar tidak mau menerima dakwah mereka, tetaplah salah baik dulu maupun sekarang, menyebut dakwah ini dengan sebutan “Wahhâbiyyah”. Imâm Muhammad ibn Abdul Wahhâb berdakwah menyeru kepada jalan Rasulullâh Shallâllâhu alaihi wa Sallam dan para sahabat nabi, beliau tidak berdakwah menyeru kaum muslimin supaya menjadi pengikutnya. Dakwah beliau bukanlah sebuah aliran/sekte baru, namun dakwah beliau adalah kesinambungan warisan dakwah yang dimulai dari generasi pertama Islam dan mereka yang mengikuti jalan mereka dengan lebih baik. Rules kalau tidak setuju, kemukakan dengan santun, atau antum balas dengan dalil shahih jika salah… 'afwan jika mungkin ada yang tidak terima dengan ini… semoga Allah memberikan kita pemahaman agama yang benar seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam… aamiin… Baarakallahu Fiikum
Ahlussunnah wal Jamaah aswaja adalah paham yang diikuti oleh mayoritas umat Islam dengan berpedoman pada rumusan akidah Imam Abul Hasan Al-Asyari w. 324 H, dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi w. 333 H. Syekh As-Safarayni Al-Hanbaly dalam Al-Lawami’ menambahkan Al-Atsariyah sebagai bagian dari keluarga besar Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu para pengikut Imam Ahmad bin Hanbal. Kaum Salafi Wahabi, yang adalah para pengikut manhaj Syekh Abdul Wahhab mendaku sebagai bagian dari Al-Atsariyah ini. Pengakuan inilah yang dikritik oleh penulis buku dengan tebal 410 halaman ini. Buku yang ditulis kiai muda yang dikenal ahli debat, ahli fiqih dalam forum bahtsul masail, serta pemerhati kajian ulumul hadits ini menjelaskan kepada kita posisi akidah Ahlussunnah wal Jama'ah yang sesungguhnya. Dengan demikian dalam buku ini dikemukakan pandangan banyak ulama dalam mazhab Hanbali, bahkan termasuk Imam Ahmad bin Hanbal yang justru menegasikan klaim kaum Salafi wahabi tersebut. Buku ini oleh penulisnya disebut sebagai buah karya yang paling menguras pikiran, setelah hampir membenarkan akidah Salafi akibat membaca salah satu kitab kritikan ulama mereka terhadap akidah Asy'ariyah. Buku ini menjawab kritikan ulama salafi tersebut dengan argumentasi yang meyakinkan. Topik pembahasan dalam buku ini dibagi menjadi tiga. Pertama, tentang hujjah-hujjah tafwidh dan ta'wil sifat khabariyah dan jawaban atas akidah itsbat makna zhahir 'ala Salafi yang menjadi sumber keyakinan Allah serupa dengan makhluk. Kedua, tentang jawaban dan penjelasan ayat dan hadits Nabi yang seakan-akan Allah memiliki arah di atas sebagaimana keyakinan Salafi. Ketiga, tentang masalah-masalah akidah yang diperdebatkan seperti hukum mengatakan Allah berada di atas, mengapa sifat wajib Allah dirumuskan 20 saja, polemik sifat kalam Allah, polemik hadits ahad dalam akidah, kritik terhadap tauhid tiga, polemik ilmu kalam, betulkah ulama Ahlussunnah bertobat dari ilmu kalam, penjelasan tiga fase Imam Abul Hasan Al-Asy'ari, fiqih As-Syafi'i tetapi akidah As-Asy'ari, metode pendalilan madzhab Asy'ariyah, Allah wujud tanpa tempat dan arah, dan lain-lain. Dalam buku ini, pembaca benar-benar akan diajak menjelajah pembahasan akidah sifat Allah secara luas dengan rujukan-rujukan ilmiah yang lengkap. Sekali lagi, buku ini kembali membuktikan bahwa akidah Asy'ariyah dan Maturidiyah, akidah mayoritas ulama Islam, benar-benar sejalan dengan akidah Ahlussunah wal Jama'ah dari kalangan salaf dan akidah Salafi yang mengklaim diri sebagai pengikut salaf justru menyelisihinya. Membuka tema akidah salaf, penulis buku ini mengemukakan tiga varian umat Islam dalam memahami akidah sifat khabariyah. Pertama adalah kelompok Ahlussunnah wal Jamaah yang berlaku moderat dan adil. Dalam Ahlussunnah wal Jamaah dikenal dua pendekatan, yaitu tafwidh, yakni sifat yang termaktub di dalam Al-Qur'an maupun hadits yang menunjukkan seolah-olah sama antara Allah dan makhluk maka sifat tersebut diserahkan maknanya dan disesuaikan dengan keagungan dan kemahatinggian Allah, tanpa menetapkan maknanya. Semisal Istiwa', maka Allah Istawa dengan Istiwa' yang selayaknya bagi Allah tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Inilah yang dikenal dengan mazhab Salaf bukan Salafi. Berikutnya adalah takwil, dengan maksud bahwa ayat-ayat Al-Qur'an dan sunnah yang menunjukkan seolah sama dengan makhluk maka ditakwil, misalnya istiwa' tersebut ditakwil bahwa Allah menguasai Arsy. Mata Allah ditakwil dengan Rahmat Allah. Tangan Allah ditakwil dengan kekuasaan Allah. Allah tertawa ditakwil dengan ridla Allah. Allah fis sama' ditakwil bahwa Allah Maha Tinggi derajatnya bukan tempat dan arah. Sebab dengan tafwidh dan takwil tersebut, kita telah memahasucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk-Nya. لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ Artinya, "... Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat." Ash-Shūraá ayat 11. Inilah mazhab yang kita ikuti dalam Akidah Asy'ariyah. Yang pertama atau kedua adalah Ahlissunah wal Jamaah. Kedua, kelompok yang meyakini zahir ayat dan hadits lalu menetapkan maknanya. Istawa oleh mereka diyakini bahwa “Allah Istawa” di langit dan atas Arsy dengan arti “bersemayam,” meskipun mereka berkilah bersemayamnya tidak sama dengan makhluk. Anehnya mereka mengklaim keyakinan ini sebagai Mazhab Salaf, padahal kita tahu ulama Salaf tidak menetapkan makna. Demikian pula dengan sifat yang lain, menurutnya mereka menetapkan sifat yang Allah sendiri menetapkan sehingga menurut mereka Allah bertangan tetapi tidak sama dengan tangan makhluk. Allah mempunyai mata tetapi tidak sama dengan mata makhluk. Allah memiliki wajah tetapi tidak sama dengan makhluk. Dan seterusnya. Subhanallah 'amma yashifun. Di buku inilah semua dibahas tuntas. Ketiga, kelompok muaththilah dari mazhab Muktazilah, Jahmiyyah dan lain-lain yang menihilkan Allah dari sifat-sifat yang telah ditetapkan Allah dalam Quran dengan alasan potensi tasybih dan tajsim. Mereka ini menomorsatukan akal dan takwilnya cenderung pada tahrif mengubah makna. Hadirnya buku ini melengkapi jawaban para ulama Ahlussunnah wal Jamaah dalam menjawab kerancuan kaum Salafi Wahabi. Kiprah penulisnya yang dikenal banyak menjelaskan Aswaja dan firqah di luar Aswaja di Malaysia ini adalah bagian data bahwa penulisnya adalah seorang yang sangat menguasai tema-tema perdebatan seputar akidah salaf, menyajikan data justru dari ulama yang biasa dijadikan rujukan oleh kaum salafi wahabi, dan kitab-kitab yang biasa mereka rujuk, dan menjelaskankannya dengan cara yang sistematis dan argumentatif. Rujukan ratusan kitab-kitab dalam bahasa Arab tersajikan pula dalam daftar pustaka, sebanyak delapan halaman. KH Yusuf Suharto, peresensi adalah pengurus Aswaja NU Center Jatim dan dosen pada salah satu universitas di Jombang. Identitas Buku Judul Klaim Dusta Salafi Wahabi tentang Akidah Salafi Penulis Nur Hidayat Muhammad Ukuran 15,5x23 cm Tebal 422 hal xii + 410
Jombang, NU OnlineUntuk membentengi paham Ahlussunnah Wal Jamaah Aswaja annahdliyah, warga Nahdhatul Ulama’ NU hendaknya mengenal tentang Manhaj metode Salafi Wahabi, Abu Zahroh dalam kitabnya “Thoriqul Madzahib” mengungkapkan tentang berbagai manhaj yang ada dalam Islam. Demikian dikatakan KH Wazir Ali dalam pertemuan rutin Rais Syuriah MWCNU se Jombang dengan Jajaran Syuriah PCNU Jombang di aula PCNU seteempat, Ahad 06/12 kemarin. Menurut salah satu Wakil Syuriah PCNU Jombang ini, menukil pendapat Syekh Abu Zahroh, ada 5 lima manhaj dalam Islam. Manhaj tersebut yang pertama adalah Manhaj Falasifah, yang menggunakan ayat-ayat teologi dan nalar rasio dalam menerangkan tentang ketuhanan. Manhaj yang kedua lanjutnya, yaitu Manhaj Mutakallimin Mu’tazilah. Madzhab ini secara umum menggunakan qodiyah aqliyah ketetapan nalar daripada nash al-Qur’an. Akal digunakan untuk memaknai nash. Ayat-ayat yang terkait dengan aqidah harus sejalan dengan dengan rasio, meskipun terkadang keluar dari ketentuan nash al-Qur’an. Manhaj selanjutnya, tambah dia, adalah Manhaj Maturidiyah yaitu memahami dengan nash al-Qur’an dan Hadist tetapi juga didukung oleh rasio. Kemudaian yang keempat, yakni Manhaj Asy’ariah yang selalu berpegang kepada al-Qur’an dan Hadist tetapi juga tidak mengenyampingkan rasio dalil-dalil aqliyah. Dan yang terahir Manhaj Salafi/Wahabi. Manhaj ini hanya menerima nash al-Qur’an dan Hadist tanpa melakukan ta’wil menggunakan rasio sama sekali. Bahasan kali ini, menurut Kiai Wazir, fokus pada Salaf Wahabi. Mereka sama sekali tidak mau menggunakan ta’wil akal dalam meengartikan nash al-Qur’an dan Hadist. “Sehingga mereka dalam megartikan ayat yadullah fauqo aidihim, akan mengartikan yadullah, tangan Allah SWT dalam arti seperti makhluq, karena itu mereka dikatakan juga berpaham mujassimah men-jisim-kan Allah SWT”, katanya. Kiai Wazir menjelaskan bahwa paham Salafi Wahabi pertama-tama dikembangkan oleh Muhammad Bin Abdul Wahab. Seorang Ulama yang belajar dari gagasan Ibn Taimiyah dan madzhab Hambali. “Dia mengembangkan paham mujassimah-nya di kampung halamannya, tetapi ditolak oleh keluarga dan masyarakatnya. Di saat keluarga Ibn Saud, atas bantuan pembesar militer Inggris, berhasil menguasai jazirah Arab, menggunakan paham yang dikembangkan Muhammad bin Abdul Wahab sebagai asas teologinya,” jelasnya. Paham ini berlebihan dalam memaknai bid’ah tawassa’a fil bid’ah, tidak saja dalam urusan ibadah, tetapi semua hal yang tidak ada dalam sunnah dikatakan sebagai bid’ah, dan bid’ah apapun bagi mereka adalah dlolalah sesat. “Mereka tidak mengenal bid’ah sayyi-ah buruk adan hasanah baik. Misalnya, tentang jenggot, bukan persoalan ibadah. Karena Nabi SAW berjenggot, maka bagi mereka memotong jenggot haram,” terangnya. Ia juga menceritakan salah satu ajaran kaum Salafi Wahabi, saat datang ke suatu tempat baru, yang dituju pertama kali adalah kuburan makam. Kuburan yang ada cungkupnya akan dibongkar, karena mereka tidak mau menyamakan kuburan dengan masjid sehingga mereka tidak mau kuburan ada cungkupnya. Meraka juga melarang taqorrub kepada Allah SWT dengan tawassul melalui orang-orang sholeh dan para wali, serta melarang istighotsah dan tawassul kepada orang yang sudah meninggal dunia. Syamsul/Mahbib
Jika anda bertanya-tanya, mana yang lebih baik antara Salafi, Wahabi, Aswaja, Suni & Syiah, saya telah jelaskan masing-masing aqidah dari kelompok Islam diatas Baca Apa & Siapa itu Sunni, Syiah, Salafi, Wahabi dan Aswaja?. Sebenarnya masih ada banyak lagi kelompok dalam Islam, tapi manakah yang terbaik diantara semuanya? Allah subhanahu wa ta’ala telah menjawab pertanyaan itu dalam firmannya di Qs Al-An’am 159 إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ Artinya “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu Muhammad kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” [Qs Al-An’am 159] dan QS Ar-Rum 30-32 {فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ 30 مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ 31 مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ 32 } Artinya “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah salat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [QS Ar-Rum 30-32] Jadi, dari dua ayat diatas saja kita sudah tahu bahwa muslim yang paling baik di mata Allah Subhanahu wa ta’ala adalah muslim yang tidak membuat kelompok dan / atau masuk ke dalam golongan-golongan maupun kelompok-kelompok. Sebaik-baik Muslim adalah mereka yang tidak masuk ke dalam kelompok Salafi, Wahabi, Aswaja, Sunni dan Syiah, termasuk juga organisasi NU, FPI, Banser, GP Anshor, dan kelompok-kelompok lainnya. Masing-masing Kelompok Merasa Paling Benar! Setiap kelompok Islam ini mengklaim bahwa kelompoknya-lah yang paling benar dan merasa bangga dengan kelompok yang ia masuki. Aswaja mengklaim bahwa kelompok mereka paling benar, Tariqat mengatakan bahwa kelompok mereka paling dekat dengan Allah, Kelompok Salafi menyebut kelompok mereka berada di jalan Islam yang lurus dan murni. Tapi, apakah diantara mereka ada yang paling benar? Bukan, bukan “Wallahualam” jawabannya. Karena muslim yang berfikiran terbuka, yang berbicara dengan iman, yang menggunakan logika, mereka akan menemukan jawaban siapa paling benar! Siapa Paling Benar? Jika kamu mengklaim kelompok Islam-mu yang paling baik, paling benar dan paling lurus, sekarang saya tanya kepadamu mana yang lebih baik antara Aswaja/Sunni atau rasulmu Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam? Kamu pasti menjawab Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Jika kamu mengaku “Salafi” paling benar, maka saya tanya padamu mana yang lebih benar antara Salafi dengan Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam? Kamu pasti menjawab Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Kalau begitu kenapa kamu tidak menyebut dirimu sebagai “Muhammadi”? [1] Ini lebih baik! SideNote[1] “Salaf” singkatan dari “Shalafus Shalih”, yaitu mengikuti orang-orang sholeh terdahulu. Orang-orang pengikutnya disebut dengan “Salafi” Salaf + i. Sekarang saya tanya kembali siapa yang paling superior, paling benar, paling segalanya antara Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Kamu pasti menjawab Allah. Lalu saya tanya kembali, Allah menyebut orang yang tunduk kepadanya dengan istilah apa? Kamu pasti menjawab “Muslim“. Kalau begitu kenapa kamu tidak menyebut dirimu “Muslim” saja, karena “Muslim”lebih superior, lebih tinggi, lebih benar dan lebih lurus dari pada Aswaja, Salafi, Sunni, Syiah dan kelompok-kelompok Islam lainnya? Jadi, jika kamu ingin memberikan label atau nama kelompok-kelompok pada agama Islam-mu, antara Salafi, Wahabi, Sunni, Aswaja atau Tariqat, maka yang terbaik adalah Muhammadi. Dan dari pada menyebut diri Muhammadi, maka yang terbaik dari yang terbaik adalah dengan menyebut dirimu Muslim! Dan untuk diriku, aku lebih memilih menyebut diriku sebagai MUSLIM Kemarin muslim, sekarang muslim, dan saat matipun aku akan mati sebagai seorang MUSLIM!
ArticlePDF Available AbstractSedikitnya, hingga kini NKRI masih diliputi 5 tantangan kemiskinan, lemahnya penegakan hukum, karakter kekerasan bebe-rapa ormas Islam, kesenjangan pemanfaatan dalil naqli dan dalil aqli, dan gerakan Wahabi. Kelima tantangan tersebut dapat dimini-malisasi melalui aktualisasi nilai-nilai Aswaja berupa tawassuth moderat, tawazun seimbang, i’tidal tegak lurus, keadilan, dan tasamuh toleran. Upaya aktualisasi tersebut tentu harus ditopang dengan spirit utama dalam dakwah Islam, yaitu menyemai perda-maian dan penegakan akhlak yang mulia. Ditambah lagi pemanfaatan media massa dan teknologi informatika secara berkesinambungan. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. ASWAJA DAN NKRI Upaya Mempertahankan NKRI melalui Aswaja Hairul AnamAbstrak Sedikitnya, hingga kini NKRI masih diliputi 5 tantangan kemiskinan, lemahnya penegakan hukum, karakter kekerasan bebe-rapa ormas Islam, kesenjangan pemanfaatan dalil naqli dan dalil aqli, dan gerakan Wahabi. Kelima tantangan tersebut dapat dimini-malisasi melalui aktualisasi nilai-nilai Aswaja berupa tawassuth moderat, tawazun seimbang, i’tidal tegak lurus, keadilan, dan tasamuh toleran. Upaya aktualisasi tersebut tentu harus ditopang dengan spirit utama dalam dakwah Islam, yaitu menyemai perda-maian dan penegakan akhlak yang mulia. Ditambah lagi pemanfaatan media massa dan teknologi informatika secara berkesinambungan. Kata kunci Aswaja, NKRI Pendahuluan Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI adalah warisan berharga nenek moyang kita. Ia diraih melalui proses panjang dan ber-darah-darah. Kehadirannya dicapai berkat perjuangan para pahlawan ke-merdekaan sehingga mengutuhkan keberadaan NKRI. Mereka adalah orang-orang yang sangat berjasa dalam menegakkan kemerdekaan di bu-mi persada ini. Mereka mengharumkan nama Indonesia dengan pengor-banan materi, waktu, harta, bahkan jiwa! Oleh karena itu, bangsa Indo-nesia wajib mengagungkan jasa-jasa para pahlawan kemerdekaan terse-but, dengan merawat NKRI sebagai hasil jerih payah adalah mahasiswa Program Magister PAI Pascasarjana STAIN Pamekasan. Meminjam istilah Radhar Panca Dahana, selaku bangsa Indonesia, kita mesti “Menjadi Manusia Indonesia”. Upaya menjadi tersebut merupakan tantangan tersendiri bagi kita selaku generasi bangsa untuk merawat keutuhan NKRI. Tantangan tersebut mengarah Aswaja dan NKRI Islamuna Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 Kehadiran NKRI tidak semudah mengedipkan mata. Bangsa ini, harus berjuang mati-matian hingga kurang lebih 3,5 abad untuk bisa berdiri tegak dan tidak dibuat bulan-bulanan oleh kaum penjajah. Rentang waktu yang cukup panjang tersebut berada dalam kehidupan kolonialis-me. Sungguhpun demikian, belenggu penjajahan oleh manusia-manusia tak beriman kepada Allah itu mampu dilepaskan atas semangat perjuang-an bangsa Indonesia yang sangat bagian dari NKRI, kini kita bisa bernafas lega. Tak ada lagi penjajah. Tak ada pula dentuman bom atau serentetan bunyi granat. Hidup kita menawarkan kedamaian. Dan bangsa yang berada di bawah payung NKRI ini leluasa merajut jalinan sosial setiap harinya. Seiring meretasnya waktu, orang-orang yang hidup di atas bumi pertiwi ini se-makin banyak. Dan kehidupan multikultural tetap menjadi ciri khas uta-manya. Pada titik itu, kehidupan multikultural menjadi berkah tersendiri. Di dalam tubuh NKRI terkandung bermacam-macam ras, etnik, suku, dan agama. Budaya yang mewarnai kehidupannya pun tak kalah banyaknya. Dan sudah menjadi fitrah kehidupan, multikulturalitas tersebut sudah pasti melahirkan problem kebangsaan. Dan problem kebangsaan acapkali dihadapkan pada sikap menutup diri eksklusif terhadap perbedaan-per-bedaan yang ada. Sungguh aneh ketika perbedaan menguncup pada lahirnya masa-lah. Mestinya perbedaan tersebut diracik untuk kemudian menciptakan kehidupan yang lebih harmonis dan menjunjung tinggi perdamaian. Te-tapi nyatanya, kemestian tersebut selalu dibentur oleh ketidakmestian. Perbedaan acapkali menjadi laknat, bukan nikmat. Akibatnya, kesenja-ngan hidup di altar NKRI ini menjadi suatu hal yang cukup memilukan. pada penyadaran diri. Dalam batas tertentu, Dahana telah memberikan kontribusi positif untuk melahirkan kesadaran dalam diri kita sehingga betul-betul selalu berupaya mera-wat NKRI selamanya. Temukan dalam Radhar Panca Dahana, Menjadi Manusia Indonesia Yogyakarta LKiS, 2001. Dalam catatan sejarah, semangat juang arek-arek Suroboyo telah memberikan gamba-ran kuat akan hal itu. Setidaknya, itu terabadikan dalam Resolusi Jihad pada 10 November 1945 yang gerakannya dipelopori oleh para sesepuh Nahdlatul Ulama. Perla-wanan mereka terhadap para penjajah menjadi bukti nyata betapa mereka punya komit-men tinggi untuk mempertahankan kemerdekaan serta merawatnya sehingga hingga kini NKRI tetap berdaulat. Hairul Anam Islamuna Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 Dan parahnya, agama kerapkali dijadikan alasan untuk membenarkan ke-senjangan tersebut. Lebih dari itu, di NKRI, ajaran utama dalam beragama Islam agar menebar kedamaian dalam hidup seakan nyaris menjadi slogan belaka. Berbeda agama atau pemahaman tak jarang dijadikan pembenaran untuk mencuatkan permusuhan. Bahkan anehnya, sesama umat beragama pun kurang mampu meredam emosi untuk tidak saling bermusuhan. Darah mengalir sia-sia dan persahabatan membuncah pada pertengkaran sering-kali difaktori oleh pola kehidupan beragama yang ekslusif. Dan ini men-jadi fenomena tak asing lagi dalam kehidupan beragama Islam di bumi nusantara ini. Di Indonesia hingga kini tumbuh Ormas-Ormas yang berbaju Islam tetapi mengabaikan substansi dari ajaran Islam itu sendiri. Mereka lebih cenderung bertindak melalui jalur kekerasan. Mereka selalu mene-gaskan bahwa kekerasan tersebut bagian dari strategi dakwah. Padahal, Rasulullah Saw. tak pernah memakai jalur kekerasan dalam berdakwah kecuali memang dalam keadaan terdesak dan genting. Beliau tidak mela-kukan peperangan kecuali memang diserang. Dan hebatnya, Rasulullah tetap berlaku baik terhadap musuh yang membenci atau hendak hidup bernegara dan beragama Islam di Indonesia terbilang masih jauh dari tujuan ideal keberadaan Islam, sebagai agama damai bagi semesta alam. Ada saja kasus anyar yang berbalutkan kekerasan berna-faskan agama. Penyerangan diskusi buku LKiS karya Irshad Manji ber-judul “Allah, Liberty and Love”, Rabu, 9 Mei 2012 yang dilakukan oleh aktivis Majelis Mujahiddin Indonesia MMI menjadi catatan merah da-lam kehidupan beragama Islam di Indonesia. Massa yang membawa selebaran Majelis Mujahiddin Indonesia itu mengobrak-abrik diskusi bu-ku tersebut dengan brutal. MMI menegaskan bahwa tindakan mereka itu bernafaskan perintah agama, nahî mungkar mencegah perbuatan-perbu-Dalam sejarahnya, betapa Rasulullah masih sudi memaafkan kafir Quraisy Mekkah ketika beliau kuasa menaklukkan Mekkah fathul mekkah. Dengan pengikut kuat yang beliau sudah bangun sewaktu di Madinah, beliau dan pengikutnya itu berbondong-bondong masuk Mekkah tanpa harus menumpahkan darah. Terkait hal ini, menarik dibedah karya Khalil Abdul Karim, Negara Madinah Politik Penaklukan Masyarakat Suku Arab Yogyakarta LKiS, 2011. Aswaja dan NKRI Islamuna Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 atan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Penegasan tersebut tentu kurang fair, karena mengabaikan spirit perdamaian dalam Islam. Ada juga Front Pembela Islam FPI. Gerakan Ormas ini hampir tidak jauh berbeda dengan MMI serta Ormas-Ormas lainnya yang berwajah angker, menjadikan kekerasan sebagai pola dakwah mereka. Kalau mau jujur, sudah berapa banyak fasilitas negara yang mereka rusak? Sudah berapa banyak pula cucuran darah yang difaktori tindakan-tindakan keras mereka? Mereka memang saudara kita, sesama muslim. Tetapi tindak kekerasan yang sering mereka pelopori bukanlah perilaku yang patut demikian, kekerasan tersebut pasti ada penyebabnya. Merebaknya koruptor dan lemahnya penegakan hukum yang telah me-warnai tubuh NKRI dijadikan alasan untuk membenarkan tindak keke-rasan tersebut. Begitu halnya kian merebaknya demoralisasi bangsa. Dan kemiskinan makin mencuat sehingga menambah buram kehidupan bangsa ini. Keadilan yang kurang membumi di negeri ini menjadi pemicu uta-manya kekerasan yang berbalut agama. Di samping itu, demoralisasi bangsa menjadi semua itu, sekali lagi, tindakan kekerasan tetap tidak bisa di-benarkan. Semua agama mengamini hal mencegah kemungka-Karakter kekerasan FPI ini kian kentara dari diskusi Habib Salim dari FPI dengan KH Ali Mustafa Yaqub dari PBNU di TVOne, belum lama ini. Diskusi tersebut dalam rangka merespon rencana konser Lady Gaga penyanyi luar negeri di Indonesia. Pada kesempatan itu, Salim selalu menekankan bahwa dirinya siap ditembak mati demi menegakkan nahî mungkar mencegah kemungkaran meski dilakukan dengan jalan kekerasan. Lebih jelasnya, saksikan video di dinding facebook Akhmad Sahal Wakil Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU Amerika-Kanada. Video diambil pada Kamis, 4 Desember 2014. Tindak kekerasan yang acapkali dilakoni FPI dan semacamnya, tak jarang berdalih karena penegakan hukum serta keadilan di negeri ini sangat lemah. Plus demi penyelamatan akhlak bangsa. Kendati demikian, pembacaan seperti ini tak dapat dijadikan sandaran untuk menancapkan kuku kekerasan di berbagai lini kehidupan berbangsa dan beragama. Apapun alasannya, apapun yang melatarbelakanginya, jalan kekerasan bukanlah sikap bijak yang patut kita amini sebagai tindakan tak benar, jauh dari nafas Islam. Buku yang mengulas secara baik ragam pandangan agama terhadap tindakan kekerasan „berbaju‟ agama ialah Armada Riyanto ed., Agama anti Kekerasan; Membangun Iman yang Merangkul Malang Dioma, 2000. Hairul Anam Islamuna Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 ran dengan jalan mungkar sangat tidak islami. Klaim kebenaran diri dengan mengabaikan peluang kebenaran orang lain the other, juga sangatlah naïf. Termasuk pula mengedepankan teks nash agama daripada akal atau sebaliknya, tentu kurang tepat. Dan adil dalam menghadapi perbedaan harus selalu digalakkan. Pada aras itu, sikap keberagamaan kita harus selalu berpijak pada nilai-nilai yang terkandung dalam paham ahlussunnah wal jamâ‟ah Aswaja, yaitu meliputi tawassuth moderat, tawazun seimbang, dan i`tidal tegak lurus, keadilan. Ditambah lagi tasamuh toleran. Nilai-nilai tersebut merupakan cerminan dari Aswaja warga NU Aswaja An-Nahdliyah. Kajian mengenai upaya „merawat‟ NKRI melalui aktualisasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah dalam kehidupan beragama Islam di Indonesia, hemat penulis, sangat penting dilakukan. Melaluinya, tindak kekerasan yang berbalutkan agama dan mengancam keutuhan NKRI sela-ma ini bisa dipotret betapa hal itu tidak sejalan dengan nafas Islam. Dengan demikian, ungkapan Islam sebagai agama yang rahmatan lil âlamîn diharapkan tidak sebatas menjadi slogan yang hampa makna. Dari penjabaran di atas, artikel ini akan menitiktekankan pada pembahasan seputar tantangan utama kehidupan bernegara dan beragama Islam di Indonesia. Selain itu, juga akan menguarai tentang langkah yang bisa ditempuh guna aktualisasi nilai-nilai Aswaja dalam menyikapi tantangan kehidupan bernegara dan beragama Islam di Indonesia demi merawat NKRI. Mengenal Aswaja Dataran Teoritik Kajian tentang Aswaja tidak terlepas dari perdebatan sengit dan memunculkan perhatian tersendiri dari banyak kalangan, terutama dari para pemuda dan kiai-kiai NU yang peduli terhadap keutuhan NKRI. Perdebatan tersebut dilandaskan pada pemikiran sehat dan niat baik, sebab tidak mewujud kekerasan melainkan kajian secara mendalam untuk mendapatkan pemahaman yang lebih kuat lagi terkait dengan Aswaja—khususnya versi warga NU. Perdebatan tentang Aswaja di NKRI ini hakikatnya telah lama bergulir, yakni berkisar akhir dasawarsa 1980-an dan awal 1990-an. Dan—dari penelusuran referensi penulis—hal itu tambah terasa mencuat Aswaja dan NKRI Islamuna Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 ketika perdebatan tersebut tersusun dalam sebuah buku “Kontroversi Aswaja Aula Perdebatan dan Reinterpretasi”. Buku ini dipetakan ke dalam 3 bagian perdebatan sejarah, perdebatan makna, serta tanggapan dan refleksi. Di dalamnya terkumpul gagasan-gagasan dari pemikir muda dan sesepuh NU. Sehingga, terasa sekali adanya iklim pengetahuan yang sangat kental dan segar. Buku setebal 193 halaman itu menyuguhkan ragam perspektif tentang Aswaja. Kalau buku tersebut mau dilihat sebagai naskah drama, maka pemeran utamanya ialah Said Aqiel Siroj yang kini menakhodai PBNU Jakarta Pusat. Sementara alm. Gus Dur, dalam kapasitasnya yang ketika itu sebagai ketua PBNU, dalam hal ini disebut-sebut sebagai figur yang memfasilitasi berlangsungnya perdebatan dan reinterpretasi Aswaja tahun kemudian, tepatnya 2006, para pemuda NU kem-bali membincangkan Aswaja An-Nahdliyah ke dalam jurnal Tashwirul Afkar. Jurnal yang diterbitkan Lakpesdam NU, ini mengangkat tema umum yang cukup berani “Manhajul Fikr NU Sebuah Pencarian yang Tak Tuntas”.Karena fokus pembahasannya memang pada Ormas NU, Aswaja An-Nahdliyah di dalamnya dikupas secara kritis. Dalam pada itu, karya ilmiah ini tidak berpretensi untuk meng-hadirkan kembali perdebatan di atas. Tegasnya, perdebatan tersebut tetap menguncup pada sebuah pemahaman bahwa Aswaja An-Nahdliyah beser-ta nilai-nilainya tetap menarik dan dibutuhkan dalam kehidupan kekinian. Selanjutnya ialah tinggal bagaimana segenap umat Islam mengaktual-kannya dalam kehidupan di NKRI ini. Telaah, Imam Baehaqi ed., Kontroversi Aswaja Aula Perdebatan dan Reinterpretasi Yogyakarta LKiS, 2000. Buku ini menghadirkan ragam pemikiran yang mendasarkan pada paham Aswaja. Mulai dari persoalan sosial, politik, budaya, dan utamanya dalam bidang akidah. Nama lengkapnya adalah KH Abdurrahman Wahid. Dalam catatan Wikipedia, beliau merupakan mantan presiden NKRI yang ke-4. Gus Dur dilahirkan di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 dan meninggal dunia di Jakarta, 30 Desember 2009 pada umur 69 tahun. Telusuri, Data diambil pada Ahad, 27 Mei 2012. Imam Baehaqi ed., Kontroversi Aswaja … , hal. vii. Lihat, Jurnal Tashwirul Afkar, “Manhajul Fikr NU Sebuah Pencarian yang Tak Tuntas”, Edisi No. 19 Tahun 2006. Hairul Anam Islamuna Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 Dalam istilah masyarakat yang berada di bawah naungan NKRI, Aswaja adalah singkatan dari Ahlussunnah wal Jamâ’ah. Mencermati hal itu, terdapat 3 kata yang membentuk kata tersebut Ahl, Al-Sunnah, dan Al-Jamâ’ah. Ahl berarti keluarga, golongan atau pengikut. Sedangkan Al-Sunnah ialah semua yang datang dari Rasulullah ucapan, perbuatan, dan pengakuannya. Sedangkan Al-Jamâ`ah ialah apa yang telah disepakati oleh para Sahabat Rasulullah pada masa Khulafaur Rasyidin. Dan karena bidikan bahasan ini warga NU, maka penulis menambah An-Nahdliyah di belakangnya. Istilah terakhir ini merupakan sebutan bagi warga atau organisasi NU. Pada wilayah tersebut, di dalam Aswaja An-Nahdliyah, terdapat nilai-nilai yang penting untuk selalu diaktualkan dalam kehidupan berne-gara dan beragama Islam di NKRI. Secara umum, nilai tersebut meliputi empat hal tawassuth, tawazun, i’tidal, dan tasamuh. Tawassuth adalah sikap moderat, tidak ekstrem kiri atau kanan. Adapun tawazun ialah sikap seimbang dalam segala hal, termasuk kese-imbangan dalam penggunaan dalil `aqli rasio dan dalil naqli al-Qur‟an dan Hadis. Sedangkan i`tidal berarti tegak lurus dan adil. Adapun tasa-muh berarti toleran, menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Tantangan Kehidupan Bernegara dan Beragama Islam di Indonesia Kesetiaan para elit dan anak-anak bangsa pada warisan tradisi dan budaya bangsa Indonesia sendiri menjadi faktor terpenting utuhnya NKRI. Adapun kehidupan multikultural menjadi fakta yang diterima dan dihargai. Dan agama menempati posisi tersendiri di dalamnya. Sungguh pun demikian, NKRI yang berhaluan demokratis diha-dapkan pada tantangan kehidupan beragama Islam yang cukup kompleks. Islam sebagai agama yang banyak penganutnya di Indonesia sangatlah menjadi penentu akan roda kenegaraan ini. Karena itu, tantangan yang melekatinya menjadi penentu pula terhadap keutuhan NKRI. Secara lugas, penjelasan mengenai pengertian Aswaja ini tertuang secara lugas dalam KH Muhyiddin Abdusshomad, Aqidah Ahlussunnah wal-Jamâ’ah Terjemah & Syarh Aqidah al-Awam Surabaya Kholista, 2009, 7-9. Aswaja dan NKRI Islamuna Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 Kondisi umat Islam di Indonesia rata-rata masih tergolong mis-kin. Dan siapapun mengamini, kemiskinan yang tidak diimbangi dengan keimanan dan keberislaman yang arif lazimnya memunculkan sikap yang kurang islami. Tak menutup kemungkinan ia mudah diajak untuk ber-tindak kekerasan hanya demi sesuap nasi. Dan kalau sampai hal ini me-wabah serta tidak ada pengendalian dari banyak kalangan, masa depan NKRI bisa terancam. Pemerintah NKRI sudah berjanji hendak mengurangi angka kemiskinan dari waktu ke waktu. Menurut catatan pemerintah, dari jum-lah orang miskin sebelumnya yaitu sekitar 17,7 juta orang pemerintah menargetkan turun menjadi 16 juta orang hingga akhir tahun 2011. Se-lanjutnya, pemerintah telah menargetkan untuk dapat menurunkan angka kemiskinan menjadi sekitar 14,4 juta orang miskin di Indonesia. Tetapi sebagaimana biasa, janji tersebut masih belum mewujud nyata. Banyak kalangan yang menilai pemerintah NKRI belum berhasil menekan angka kemiskinan secara yang lemah karena gelimang kemiskinan tak jarang membuat pikiran dan sikap seseorang kurang bijak. Konsekuensinya, bukan sesuatu yang aneh lagi ketika ada orang Islam mau berbuat keja-hatan demi mengganjal isi perutnya. Dan para demonstran yang selalu bertindak anarkis, tampaknya masuk ke dalam katergori ini. Bisa saja mereka berbuat anarkis untuk mendapatkan uang atau materi lainnya. Di samping itu, suburnya organisasi-organisasi masyarakat Ormas yang mendedahkan nafas Islam ke dalam dirinya tetapi menjauhi nilai-nilai substansial dari ajaran Islam dan kebudayaan yang terkandung dalam NKRI menambah tantangan tersebut. Nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah pun kerapkali terabaikan karena gaung gerakan mereka yang bernafaskan kekerasan atas nama hal itu tergambar Kondisi ini cukup dipertegas oleh Muhamad Hazairin dalam artikelnya di Kompasiana bertajuk “Orang Islam Indonesia Masih Miskin”, 09 Juni 2010. Kamis, 4 Desember 2014. Temukan dalam Pikiran Rakyat Online, Angka Kemiskinan di Indonesia Masih Tinggi, Jumat, 30/12/2011. Diakses pada Kamis, 4 Desember 2014. Ormas-Ormas Islam yang sering melakukan kekerasan di NKRI ini ialah Front Pem-bela Islam FPI, Majlis Mujahiddin Indonesia MMI, dan sejenisnya. Ormas-Ormas ini hampir selalu melakoni kekerasan yang tentu menggoyahkan keutuhan NKRI. Khusus Hizbut Tahrir Indonesia HTI, lazimnya melakukan gerakan „bawah tanah‟ dengan Hairul Anam Islamuna Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 jelas dari tindak kekerasan yang acapkali didalangi oleh mereka dari waktu ke waktu. Kenyataan di atas tidak terlepas dari egoisme diri yang begitu tinggi. Di samping itu, kesadaran bersejarah yang lemah menjadi penye-bab lainnya. Kalau mereka baca Ormas garis keras mau membuka hati, setidaknya mereka sadar betapa NKRI ini hadir berkat perjuangan dan persatuan banyak kalangan. Tindak kekerasan yang tak jarang dilakoni oleh mereka hanya mencederai perjuangan dan persatuan yang sudah lama terbangun dalam tubuh NKRI. Timpangnya penegakan hukum juga menjadi tantangan yang tak kalah mengkuatirkan. Kondisi ini acapkali dijadikan pijakan oleh orang-orang yang tak berkenan bila NKRI tetap utuh. Dengan alasan betapa bejatnya penegak hukum sehingga para koruptor menjadi banyak, tak jarang digaungkan sesuatu yang berbalutkan spirit melemahkan keutuhan NKRI. Mereka berpendapat, demi kemaslahatan umat, NKRI harus di-ubah menjadi negara agama. Dalam hal ini yang sering mencuat ialah tegaknya Negara Islam. Padahal dalam sejarah Rasulullah, tidak ada Ne-gara Islam, yang ada hanyalah Negara pada itu, tantangan kehidupan bernegara dan beragama Islam di NKRI ini yang paling berbahaya ialah gerakan paham Wahabi. Sejalur dengan penjabaran di atas, paham ini menginginkan tegaknya Negara Islam di bumi persada ini. Banyak jalan yang sudah mereka menancapkan ide-ide pembentukan Khilafah Islamiyah. Lihat, Sri Mulyati, “Pertarungan Pemikiran NU dan Kelompok Islam Lain” dalam jurnal Tashwirul Afkar, Edisi No. 21 tahun 2007. Banyak karya yang telah menyinggung betapa kekerasan atas nama agama itu tidak sejalan dengan nafas Islam. Dan karya yang terbaru ialah Machasin, Islam Dinamis, Islam Harmonis Lokalitas, Pluralisme, Terorisme Yogyakarta LKiS, 2012, 235-243. Berbicara upaya pembentukan Negara Islam, saya tertarik dengan pemikiran santun KH A Mustofa Bisri. Dalam pandangannya, pembentukan Negara Islam hanya mela-hirkan formalisasi ajaran agama Islam. Dan formalisasi tersebut akan mengubahnya dari agama menjadi ideologi yang batas-batasnya akan ditentukan berdasarkan kepentingan politik. Islam yang semula bersifat terbuka dan luas pada akhirnya menjadi sempit. Dan ini sangat merugikan bagi keberlangsungan umat yang beragama Islam maupun umat yang tidak bergama Islam. Temukan dalam, A Mustofa Bisri, “Belajar Tanpa Akhir Epilog” dalam Ilusi Negara Islam, 234. Buku yang secara mendalam mengupas tentang Negara Madinah ini ialah karya Khalil Abdul Karim, Negara Madina. Aswaja dan NKRI Islamuna Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 tempuh. Kalau tidak disikapi dengan bijak, ini bisa meruntuhkan keutu-han NKRI. Tantangan berikutnya ialah pola pemikiran yang kurang menye-imbangkan dalil `aqli akal dengan dalil naqli al-Qur‟an dan Hadis. Munculnya komunitas yang mendaulat dirinya sebagai pemikir liberal melahirkan kegelisahan tersendiri. Mereka nyaris mengagungkan akal ditimbang wahyu. Begitu pula sebaliknya, masih tak jarang ditemukan pemikir Islam yang mengedepankan dalil naqli secara tekstual atau tidak kontekstual dengan mengenyampingkan keberadaan akal. Fenomena ini memunculkan perdebatan-perdebatan sengit tetapi miskin makna. Akibat-nya, orang-orang awam menjadi bingung lantaran perdebatan tersebut memantikkan ketidakseimbangan antara akal dan wahyu. Merawat NKRI melalui Paham Aswaja Sudah dimaklumi dalam penjabaran di atas, tantangan kehidupan bernegara dan beragama Islam di Indonesia sangatlah banyak. Setidak-nya, terdapat 5 tantangan utama kemiskinan, lemahnya penegakan hu-kum, karakter kekerasan beberapa Ormas Islam, kesenjangan pemanfa-atan dalil naqli dan dalil `aqli, dan gerakan Wahabi. Itu semua membu-tuhkan semangat juang untuk selalu berupaya melakukan aktualisasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah ke dalamnya. Ini tak lain demi mengemban amanah mulia, yaitu merawat keutuhan NKRI. Dalam menyikapi kemiskinan, umat Islam tidak sepenuhnya mesti menergantungkan dirinya kepada pemerintah. Mereka harus berdaya secara ekonomi dan belajar untuk bisa hidup mandiri. Akan tetapi, peme-rintah tidak boleh lepas tangan. Dalam hal ini, organisasi Islam terbesar di Indonesia seperti NU menempati posisi penting menyikapi persoalan ini. Sebagai Ormas Islam yang membawa misi Aswaja, NU harus tetap meng-awal peradaban bernegara dan beragama Islam di Indonesia. Jalan yang dominan mereka tempuh ialah kekerasan. Itu sudah lama bergulir. Cukup menarik kajian sejarah yang dilakukan oleh Syaikh Idahram yang dikontekstualisasikan dalam kehidupan NKRI. Tentang hal ini, bisa dilacak dalam Syaikh Idahram, Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Yogyakarta LKiS, 2011. Bandingkan dengan Syaikh Idahram, Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi Yogyakarta LKiS, 2011. Buku yang terakhir ini, pernah saya resensi di NU Online PBNU dan juga di NU Online Pamekasan, Minggu, 4 Maret 2012. Hairul Anam Islamuna Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 Dalam hal perekonomian guna menyikapi problem kemiskinan, di negeri ini pernah dibentuk Nahdlatut Tujjar. Syekh Hasyim Asy‟ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah menjadi pelopor utama di dalamnya, sehingga dicetuskan Piagam Nahdlatut Tujjar. Mencermati hal ini, nilai i'tidal cukup terasa. Upaya untuk menyejahterakan perekonomian masya-rakat adalah bentuk lain dari keadilan yang patut dijunjung tinggi. Piagam Nahdlatut Tujjar di atas mengindikasikan betapa kemis-kinan di negeri ini harus dihadapi secara bersama-sama dan komitmen yang tinggi. Dan orang yang miskin terlebih dahulu harus diubah paradig-manya agar tidak selalu hendak menergantungkan hidupnya kepada orang lain. Berikut petikan kalimat dalam Piagam Nahdlatut Tujjar yang me-nunjukkan hal itu “Mereka melakukan sikap tajarrud sikap mengisolir dan membebaskan diri dari mencari nafkah, sedangkan mereka belum mampu. Akibatnya sebagian besar mereka harus merendah-rendahkan diri minta bantuan orang kaya yang bodoh atau penguasa yang durhaka.” Dari redaksi bahasa yang digunakan, tampaknya bangsa ini pernah hidup dalam kondisi perekonomian yang cukup mengenaskan. Tentu saat ini tidak separah seperti itu. Hanya saja, di beberapa tempat di perkotaan, tak jarang kita masih mendapati para pengemis yang tentu menyentuh sanubari. Ada yang tua sembari menggendong anaknya, dan tak sedikit yang masih anak-anak di bawah umur. Mereka menjalani kehidupan keras di kota berbalutkan kondisi perekonomian yang sangat lemah. Lantas, siapa yang patut disalahkan? Menilik persoalan tersebut, tak sepantasnya kita perpikir hitam-putih, tidak mudah memberikan klaim kesalahan. Satu hal yang penting ialah mencarikan solusi alternatif guna memecahkan persoalan tersebut. Salah satunya ialah dengan melabuhkan nilai Aswaja An-Nahdliyah berupa keadilan i`tidal. Konkretnya, pemerataan kesejahteraan di negeri ini mesti digalakkan. Sebab, dengan begitu, kemiskinan dapat dimini-malisir sedemikian rupa. Dan ini tidak bakal berlangsung maksimal tanpa adanya komitmen tinggi dari pemerintah, pengusaha, warga Nahdliyin, dan masyarakat secara umum. Penyediaan lapangan kerja, misalnya. Ini masuk kategori i`tidal kalau merata dan tidak hanya dimiliki oleh bebe-rapa orang saja. Piagam Nahdlatut Tujjar ini terdokumentasikan dalam Abdul Mun‟im DZ, Piagam Perjuangan Kebangsaan Jakarta Setjen PBNU-NU Online, 2011, 26-28. Aswaja dan NKRI Islamuna Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 Adapun penegakan hukum yang lemah, ini tetap berkaitan dengan nilai i'tidal. Di NKRI ini, penegakan hukum acapkali diidentikkan dengan pisau; posisi atas tumpul, sedangkan posisi pijau bawah tajam. Kalau analogi tersebut ditarik pada ranah hukum, dijumpai betapa mereka yang bermodal dan atau memegang kekuasaan sering „selamat‟ atau setidaknya mendapat sanksi ringan dibanding masyarakat kelas bawah. Pencuri ayam, misalnya. Tanpa bermaksud membenarkan tindakan tersebut, tak jarang penegak hukum di negeri ini melakukan intimidasi dengan pem-berian sanksi berat kepadanya. Berbeda dengan para koruptor yang sering berbelit dan bahkan „selamat‟ dari jeratan hukum atau mendapatkan wilayah itu, di NKRI, pernah mencuat wacana hukuman mati bagi koruptor. Hukuman tersebut dinilai pantas mengingat koruptor adalah musuh terbesar bangsa ini. Mereka telah merusak seluruh sistem kehidupan dan mengubur nilai-nilai agama dan warisan luhur para pendiri bangsa. Sehingga berakibat pada rapuhnya pembangunan, lumpuhnya ekonomi, lemahnya penegakan hukum, tersumbatnya pendidikan, me-ningkatnya angka kemiskinan dan pada akhirnya berpotensi menghan-curkan bangsa ini. Sungguh tindakan korupsi merupakan perbuatan keji dan berbahaya. Karena itulah, mereka sangat pantas dienyahkan dari kehidupan ajaran Islam, korupsi dapat dikategorikan dalam tindakan ghulul/penggelapan Ali-Imran/3 161, mengambil harta dengan cara yang batil al-Baqarah/2 188, seperti, suap risywah, aklu al-suht atau mengambil harta orang lain dengan cara yang diharamkan Ironisnya, di NKRI, koruptor bisa mendapatkan remisi atau pengurangan masa hu-kuman. Ini tentu terdengar lucu di tengah kian maraknya para koruptor di negeri ini. Karena itulah, saya sangat mendukung upaya pemberhentian adanya remisi tersebut. Pandangan saya ini pernah mencuat beberapa waktu yang lalu. Temukan dalam “Permanenkan Moratorium Remisi bagi Koruptor”, Rabu, 2 November 2011. Data ini diakses 4 Desember 2014. Tegasnya, penundaan remisi bagi koruptor itu mesti dikekalkan, tidak diotak-atik lagi. Terkait wacana ini, baru-baru ini KPK telah menegaskan bahwa dirinya sangat mendu-kung. KPK menyetujui hukuman mati untuk koruptor. Hukuman tersebut dinilai sebagai hal yang pantas, terutama bagi koruptor yang sampai mengulangi kedua kali tindakan korupsinya. Pernyataan ini, ditegaskan sendiri oleh ketua KPK Abraham Samad. Te-lusuri dalam 25 April 2012. Data ini diakses pada 4 Desember 2014. Hairul Anam Islamuna Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 al-Maidah/5 62. Landasan ini cukup kuat untuk menegaskan bahwa tindakan korupsi yang hingga kini mewabah di NKRI merupakan tin-dakan bejat dan harus disikapi secara tegas oleh para penegak hukum di negeri ini. Sedangkan tindak kekerasan yang sering didalangi Ormas Islam garis keras semacam FPI dan sejenisnya, tentu tak bisa ditolerir. Men-cegah kemungkaran dengan jalan mungkar adalah kesalahan tak terma-afkan. Sebab, Rasulullah dan para sahabatnya telah memberikan gam-baran jelas hal itu. Berkenaan dengan ini, menarik disimak sebuah kisah di bawah ini. Saat menjabat sebagai khalifah, Umar bin Khattab suatu kali ber-jalan-jalan menyusuri Madinah. Begitu sampai di suatu sudut kota, Kha-lifah Umar mendapati suatu rumah yang beliau curigai sedang dipakai un-tuk bermaksiat. Sang Khalifah ingin mengecek untuk memastikannya, tapi rumah itu tertutup rapat. Akhirnya beliau memaksa masuk melalui atap. Dan benar saja, tuan rumah sedang asik bermaksiat di rumahnya. Langsung saja Khalifah Umar menghentikankannya, dan hendak me-nangkapnya. Anehnya, pemilik rumah justru tidak terima. Ia mengakui memang telah berbuat dosa. Tapi menurutnya dosanya cuma satu. Se-dangkan perbuatan Umar yang masuk rumahnya lewat atap justru me-langgar tiga perintah Allah sekaligus. Yakni, mematai-matai tajassus yang jelas dilarang dalam al-Qur‟an Q4912; masuk rumah orang lain ti-dak melalui pintu seperti yang diserukan al-Qur‟an Q2 189; dan tanpa mengucapkan salam, padahal Allah memerintahkannya Q24 27. Me-nyadari kesalahan tindakannya, Khalifah Umar akhirnya melepaskan orang tersebut dan hanya menyuruhnya Umar, dalam kapasitasnya sebagai kepala negara saat itu, mestinya punya otoritas yang sah untuk mencegah kemungkaran yang dilakukan salah seorang rakyatnya. Namun berhubung cara nahi munkar beliau terbukti melanggar aturan Tuhan, pelaku maksiat tersebut akhirnya lolos. Dari sini terdapat sejarah bernafaskan nilai tawassuth, tidak ekstrem dalam bertindak. Mencegah kemungkaran haruslah dijalankan dengan cara yang tidak mungkar. Pelajaran ini di petik dari cerita yang dikutip Imam Al-Ghazali dalam Ihya‟ Ulum al-Din II 320 yang diulas secara lugas oleh Akhmad Sahal selaku Wakil Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU Amerika-Kanada dalam Majalah Tempo, edisi 14 Mei 2012. Aswaja dan NKRI Islamuna Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 Berkenaan dengan itu, NKRI merupakan negara sah yang dileng-kapi dengan seperangkat kekuasaan guna mencegah kemungkaran. Dalam hal ini, seperti ditegaskan ulama Indonesia KH Ali Mustafa Yaqub yang mengutip pernyataan Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya‟ Ulumuddin, dalam urusan mencegah kemungkaran, rakyat hanya boleh melakukan 2 hal saja memberitahukan tentang kemungkaran itu dan memberikan dasar itu, Ormas Islam semacam FPI tidak dapat dibernarkan ketika berbuat kekerasan atas nama memberantas kemungkaran. Itu wewenang pemerintah NKRI. Dalam kasus rencana konser Lady Gaga, misalnya. FPI secara lantang hendak menindak keras kalau sampai konser tersebut tidak diurungkan di NKRI ini. Bahkan, FPI menyatakan siap ditembak. Kaitannya dengan kasus Lady Gaga, menarik apa yang disam-paikan ketua PBNU KH Said Aqil Siroj. Beliau berujar "Walaupun Lady Gaga dateng sejuta kali, iman umat NU tidak akan goyah."Saya pikir, sebagaimana diakui Akhmad Sahal Wakil Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU Amerika-Kanada dalam dinding facebooknya, pernyataan Kiai Said tersebut tidak main-main. Beliau serius. Sebab, hal itu sudah ada jaminan dari Allah dalam al-Qur‟an surat al-Ma‟idah 105. Berikut petikan ayatnya Pernyataan ini disampaikan dalam diskusi di TVOne antara K KH Ali Mustafa Yaqub dengan Habib Salim dari FPI. KH Ali Mustafa Yaqub menjabarkannya pada Diskusi yang berlangsung selama tersebut terabadikan di YouTobe. Diakses pada 4 Desember 2014. Temukan dalam 19 Mei 2012. Diakses 4 Desember 2014. Terjemah ayat tersebut “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. Ayat ini memberitahukan kepada kita bahwa kesesatan orang lain itu tidak akan memberi mudharat kepada kita, asal kita telah mendapat petunjuk. Tapi tidaklah berarti bahwa kita tidak diperintahkan berbuat yang Hairul Anam Islamuna Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 Di samping itu, Kiai Sa‟id juga menegaskan bahwa NU tidak mau terjebak kontroversi konser Lady Gaga. Pihaknya tidak mau menolak sekaligus tidak mau mendukung. Sebab, dalam pandangan Kiai Sa‟id, penerimaan dan penolakan yang bergulir selama ini itu tidak lepas dari unsur kepentingan. Dan NU tidak mau ditarik ke dalam ranah kepen-tingan itu. Pernyataan ini tampaknya mencerminkan sigap tasamuh yang menghargai perbedaan atau pro-kontra terhadap rencana konser Lady Gaga. Polemik tersebut bisa juga ditarik pada ranah pemeliharaan ter-hadap nilai-nilai luhur NKRI. Tentu penampilan Lady Gaga dan seje-nisnya tidak mencerminkan budaya NKRI. Karena itu, filterisasi budaya merupakan bagian dari upaya merawat NKRI sebagai cerminan dari nilai tawazun; menyeimbangkan antara nilai luhur bangsa dengan budaya yang dating dari luar; tidak diterima sekaligus tidak ditolak secara mentah-mentah. Nilai luhur dan karakter bangsa NKRI adakalanya tergadaikan hanya dengan alasan kebebasan. Budaya Barat yang tak jarang berban-ding terbalik dengan nilai luhur budaya NKRI diterima secara mentah-mentah. Atas nama seni, tak jarang pornografi dan pornoaksi dianggap tidak jadi persoalan. Dari itu, saya sependapat dengan pandangan ketua PBNU selaku benteng pertahanan Aswaja An-Nahdliyah yang menya-takan bahwa hakikat seni itu ialah yang mengagungkan nilai kema-nusiaan. Setiap seni yang mengabaikan nilai kemanusiaan tersebut harus ditolak karena masuk kategori tidak manusiawi, bersifat hewaniah. Selanjutnya, lahirnya komunitas yang cenderung liberal melahir-kan kesenjangan dalam penyeimbangan terhadap penggunaan dalil „aqli rasio dan dalil naqli al-Qur‟an dan Hadis. Pengagungan rasio daripada al-Qur‟an dan Hadis tentu mengarah pada kelalaian diri dalam menjaga nilai tasamuh. Terlepas dari kelebihannya, kehadiran Jaringan Islam Liberal JIL tampaknya kurang begitu mencerahkan terhadap ketenangan hidup bernegara dan beragama Islam di bumi pertiwi ini. Sungguhpun demikian, JIL masih mendingan dibanding gerakan Wahabi yang berciri-ma'ruf kebaikan dan mencegah dari yang mungkar. Asalkan dengan jalan yang benar. Temukan dalam Quran In Word Ver NU Online, 27 Mei 2012. Diakses pada 4 Desember 2014. NU Online, Ahad, 27 Mei 2012. Diakses pada 4 Desember 2014. Aswaja dan NKRI Islamuna Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 kan sikap eksklusif dan hobi membenarkan diri serta mengabaikan paham keberagamaan lainnya. Dikatakan mendingan, dalam batas tertentu, ka-rena gerakan JIL lebih menitiktekankan pada pemikiran bebas tanpa terhanyut pada tindak kekerasan dengan memaksa orang lain mengikuti pemikirannya. Para aras itu, gerakan Wahabi sangat berbahaya. Hemat saya, sek-te inilah yang menjadi cikal bakal dan penyebab utama mencuatnya sikap keberagaam yang keras di dunia maupun di NKRI ini. Ia mengabaikan dan bahkan antipati terhadap paham Aswaja An-Nahdliyah. Dengan manajemen organisasi yang luar biasa, kaum Wahabi ter-sebut mampu bergerak dan melakukan infiltrasi ke dalam tubuh NKRI. Mereka nyaris selalu leluasa menyusup ke berbagai organisasi keagamaan dan kemahasiswaan di NKRI. Bahkan, dalam pemerintahan NKRI pun, mereka juga masuk tanpa ada rintangan kuat yang organisasi terbesar di Indonesia semacam NU juga me-reka susupi. Ditengarai bahwa kaum Wahabi yang berpaham garis keras telah menyusup ke dalam NU melalui masjid-masjid, majlis-majlis tak-lim, dan pondok-pondok pesantren yang menjadi basis warga hal itu, NU kini bergerak mendirikan Pimpinan Anak Ran-ting Nahdlatul Ulama PARNU yang bertugas merawat masjid, menja-dikan masjid sebagai kegiatan sentral dalam pemberdayaan warga NU. Penguatan manajemen organisasi yang baik dalam tubuh NU menjadi kunci utama sehingga NU tetap mampu membumikan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah. Mengenai infiltrasi tersebut, dapat dilacak dalam KH Abdurrahman Wahid ed., Ilusi Negara Islam Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia Jakarta The Wahid Institut, 2009, 171-220. Dalam buku yang bersumber dari hasil penelitian ini diungkapkan bahwa Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, MUI, lembaga-lembaga pendidikan, serta instansi-instansi pemerintah dan swasta telah disusupi oleh paham garis keras semacam Wahabi. Kendati demikian, sudah dilakukan upaya menyikapinya secara tegas. Muhammadiyah mengeluarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat SKPP Muhammadiyah Nomor 149/Kep/ yang tujuannya menyelamatkan Muhammadiyah dari infiltrasi paham semacam Wahabi yang berhaluan terbalik dengan visi-misi Muhammadiyah. Demikian pula dengan NU dan seterusnya. KH Abdurrahman Wahid ed., Ilusi Negara Islam, 189. Hasil musyawarah kerja wilayah PWNU pada 31 Maret sampai 1 April lalu di pondok pesantren Assunniyah, Kencong, Jember, dan surat PWNU nomor 1623/PW/A-1/L/IV/2012. Hairul Anam Islamuna Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 Merawat NKRI melalu nilai-nilai Aswaja tidak cukup sampai di situ. Pemanfaatan media informasi penting pula diperhatikan. Dalam batas tertentu, NU telah menyadari hal itu. Selain menerbitkan media cetak seperti Ar-Risalah, Aula, dan semacamnya, NU juga memanfaatkan internet dengan menghadirkan NU Online sejak 2003 lalu. Darinya kemudian lahir slogan “Teknologi sebagai Tradisi”. Saya sangat bersyu-kur menjadi salah satu kontributor di dalamnya, sejak 2 tahun yang lalu. Semoga keutuhan NKRI tetap terawat hingga akhir masa, melalui pele-buran nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah ke dalam kehidupan bernegara dan beragama Islam di bumi persada ini. Penutup NKRI hadir melalui pengorbanan berdarah. Para pejuang kemer-dekaan merebutnya dari genggaman tangan para penjajah. Dan selaku bangsa Indonesia yang beragama Islam, kita wajib merawat keutuhannya di tengah tantangan kehidupan bernegara dan beragama Islam di In-donesia yang cukup berat. Setidaknya, tantangan tersebut meliputi 5 hal kemiskinan, lemah-nya penegakan hukum, karakter kekerasan beberapa Ormas Islam, kesen-jangan pemanfaatan dalil naqli dan dalil aqli, dan gerakan Wahabi. Itu semua membutuhkan semangat juang untuk selalu berupaya melakukan aktualisasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah ke dalamnya. Ini tak lain demi mengemban amanah mulia, yaitu merawat keutuhan NKRI. Untuk menyikapi ragam tantangan tersebut, umat Islam tidak bo-leh menyerah apalagi mundur. Semuanya mesti dihadapi dengan kebe-ranian yang membaja. Dan keberanian tersebut belum cukup tanpa ditopang dengan upaya penguasaan dan aktualisasi ajaran Islam yang ber-nafaskan nilai-nilai Aswaja. Aktualisasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah berupa tawassuth moderat, tawazun seimbang, i’tidal tegak lurus, keadilan, dan tasa-muh toleran mendesak dilakukan. Upaya aktualisasi tersebut tentu harus ditopang dengan spirit utama dalam dakwah Islam, yaitu menyemai perdamaian dan penegakan akhlak yang mulia. Ditambah lagi peman-faatan media massa dan teknologi informatika.*** Aswaja dan NKRI Islamuna Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 Daftar Pustaka Abdusshomad, Muhyiddin. Aqidah Ahlussunnah wal-Jamâ’ah Terjemah & Syarh Aqidah al-Awam. Surabaya Kholista, 2009. Baehaqi, Imam ed.. Kontroversi Aswaja Aula Perdebatan dan Reinterpretasi. Yogyakarta LKiS, 2000. Dahana, Radhar Panca. Menjadi Manusia Indonesia. Yogyakarta LKiS, 2001. Hazairin, Muhamad. Kompasiana. “Orang Islam Indonesia Masih Miskin”, 09 Juni 2010. Data diakses pada 4 Desember 2014. Diakses pada 27 Mei 2012. 19 Mei 2012. Diakses 4 Desember 2014. Idahram, Syaikh. Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, Yogyakarta LKiS, 2011. ______. Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi. Yogyakarta LKiS, 2011. Jurnal Tashwirul Afkar, “Manhajul Fikr NU Sebuah Pencarian yang Tak Tuntas”, Edisi No. 19 Tahun 2006. Karim, Khalil Abdul. Negara Madinah Politik Penaklukan Masyarakat Suku Arab. Yogyakarta LKiS, 2011. “Permanenkan Moratorium Remisi bagi Koruptor”, Rabu, 2 November 2011. Data ini diakses 4 Desember 2014. Machasin. Islam Dinamis, Islam Harmonis Lokalitas, Pluralisme, Terorisme. Yogyakarta LKiS, 2012. Majalah Tempo, edisi 14 Mei 2012. Mulyati, Sri. “Pertarungan Pemikiran NU dan Kelompok Islam Lain” dalam Jurnal Tashwirul Afkar, Edisi No. 21 tahun 2007. Hairul Anam Islamuna Volume 1 Nomor 2 Desember 2014 Mun‟im, Abdul. Piagam Perjuangan Kebangsaan. Jakarta Setjen PBNU-NU Online, 2011. 29 Desember 2011. Diakses pada 4 Desember 2014. NU Online, 27 Mei 2012. Diakses pada 4 Desember 2014. NU Online, Ahad, 27 Mei 2012. Diakses pada 4 Desember 2014. Rakyat Online. “Angka Kemiskinan di Indonesia Masih Tinggi”, 30 Desember 2011. Diakses pada 4 Desember 2014. Riyanto, Armada. Agama anti Kekerasan; Membangun Iman yang Merangkul. Malang Dioma, 2000. Setiawan, Ebta. 2010. KBBI Offline Versi 25 April 2012. Data ini diakses pada 4 Desember 2014. Wahid, Abdurrahman. Ilusi Negara Islam Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia. Jakarta The Wahid Institut, 2009. ... Nilai-nilai karakter berbasis ideologi keagamaan yang diinternalisasikan di RA Diponegoro 7 Banjarparakan Kecamatan Rawalo yaitu tawasuth moderat, tasamuh toleransi, tawazun seimbang, i'tidal tegak lurus, amar ma'ruf nahi munkar menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Hal ini sesuai dengan nilai khas Aswaja yang ditanamkan oleh organisasi keagamaan Islam Nahdlatul Ulama Anam, 2014. Nilai-nilai ini dijadikan sebagai titik pengembangan kegiatan yang diselenggarakan khususnya di RA Diponegoro 7 Banjarparakan. ...Nasrul UmamAufrina Nur IslamyBariroh BarirohInternalization of ideology-based character values in PAUD institutions affiliated with Nahdlatul Ulama is the main thing as well as being the spirit of education. Administrators in charge of central education are concerned about compiling rules for establishing moral principles. However, only as a blueprint without any follow-up or assessment to gauge its effectiveness. Based on this phenomena, this study seeks to understand how RA Diponegoro 71 Banjarparakan internalizes religious ideology-based character values. This study is a case study-style qualitative investigation. Data collected through observation, interviews, and documentation procedures along with the snowball sampling approach. Source triangulation is then used to verify the accuracy of the data. Through the processes of data reduction, data display, and data verification, data were evaluated. The study's findings are as follows 1 Tawasuth moderate, tasamuh tolerance, tawazun balanced, i'tidal perpendicular, and amar ma'ruf nahi munkar calling on goodness and preventing evil are character values based on religious ideology in RA Diponegoro 7 Banjarparakan. 2 Internalization of character values is carried out through habituation and learning in class. Habituation occurs on a daily, weekly, and annual basis. As for the design, carrying out, and evaluating learning activities 3 An sufficient curriculum and supportive parents help the internalization of ideology-based character ideals. The internalization of character values must take into account the variations in student characteristics.... Dengan kosep tawassuth sebagai agen of control dalam diri sebagaimana yang di ungkapkan oleh Al-Gazali, tentu dapat merubah generasi kedepannya lebih baik dan kuat dalam spiritualitasnya dalam menghadapi era sekrang H. Anam, 2014. Dengan demikian Negara ini akan menjadi bangsa dan masyarakatnya yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. ...Zamroni ZamroniDian Arif Noor Pratama Riswadi RiswadiThis paper aims to analyze the mapping of spiritual management process in Pondok Pesantren Al-Munawwir Kolplek L Krapyak Yogyakarta. The type of research used is qualitatively descriptive with a case study approach. Data collection techniques used are interviews, observations and documentation. Spiritual management makes a bridge to the peak consciousness of human self existence in the vertical line called fitrah awareness, one consciousness that is tawhid. Management concept is understood not only to be empirical-rational by relying on the ability of the five senses and human intellectuality, but more deeply to the values of spirituality that are the main center in success with various aspects of life. The results showed that Pondok Pesantren Al Munawwir Kompleks L implemented a pesantren management system that emphasizes managerial and applies spiritual values in its management through programs realized to achieve more comprehensive and holistic goals, namely through 1 takhalli management; 2 tahalli management; 3 tajalli management.... This means that people who adhere to or follow the Sunnah of the Prophet Muhammad, and Wal Jama'ah means the majority of the people or the majority of the companions of the Prophet Muhammad. It is defined as people who follow the Sunnah of the Prophet Muhammad and the majority of friends maa 'ana alaihi wa' ashabii, both in the Shari'a Islamic law and aqeedah and tasawuf [4]. ...M. Lukman HakimMohamad Taufik HidayatMUh. SifaIndonesia is a very diverse country, starting from different religions, ethnicities, languages and customs. In the current industrial era, radicalism is growing rapidly several times to shake the integrity of the unitary state of the Republic of Indonesia, Indonesia with a majority Muslim population with the direction of ASWAJA Ahlu al-Sunnah wal-Jama'ah are people who are always guided by the Sunnah of the Prophet Muhammad. SAW Salallahu Alaihi Wassalam, the way of the companions of the Prophet in matters of religious aqidah, outward deeds, and morals of the heart. The ASWAJA group are the survivors. The term "Sunnah" in ASWAJA refers to the instructions of the Prophet Muhammad and his companions, both knowledge, aqidah, words, and practices, namely the Sunnah which is used as a guide. ASWAJA values such as “tawassuth” moderate, “tawazun” balanced, “tasamuh” tolerant, and “i'tidal” fair become very important to be applied more massively and planned in education for prepare the next generation. The method and approach used in this study is descriptive qualitative, with data obtained from literature studies, discussions, and seminars on ASWAJA values. Furthermore, the material in this article is focused on ASWAJA values that must be applied in education and how to implement ASWAJA values strategies and methods to strengthen the nation's character in realizing the Unitary State of the Republic of Indonesia NKRI.Suyadi SuyadiThe knowledge of Indonesian Islamic education is still strongly influenced by Middle Eastern Islamic education, which is currently experiencing political turmoil and bloodshed due to the transnationalism and global Salafism movement. If this condition continues, Indonesian Islamic education will suffer the same fate. In such a situation, Islamic education with progress and Islam Nusantara education must appear prominent, becoming the mainstream mainstreaming as a stronghold of the NKRI. Although some studies deliberately make the difference between them, they have the potential for conflict, but the principle of caring for diversity must be put forward. Library research with this qualitative approach formulates the scientific mainstreaming of Islamic education with progress and Islam Nusantara education amidst the flow of transnational Islamic education. The findings of this study indicate that the scientific advancement of Islamic education with progress is Al-Islam and Kemuhammadiyahan AIK while that of Islam Nusantara education is Aswaja. AIK develops knowledge that supports the local wisdom and diversity, while Aswaja maintains local wisdom and national character through science. Both represent the science of moderate Islamic education that is more enlightening than Middle Eastern Islam; thereby, it has the potential to promote Indonesia as a barometer of Islamic world education. Keywords Islamic education, Kemuhamamdiyahan, and Aswaja Mu'Adil FaizinDiscussions about the government in Islam, and the relationship between the state and the religion has always not ended. Bringing up the wealth of Muslim's ijtihad in examining the intellectual basis of the role of the state and the government in an Islamic way. Peolemics are finally more visible as a matter of ijtihadiyah. Often, the question arises about the content of Islamic philosophical values in the formation of NKRI. Therefore, this article is researching the construction of NKRI in the view of Maqasid Syariah. This study uses the theory of Maqasid Syariah is examining the deepest intention of the establishment of the Unitary Republic of Indonesia NKRI and its components in it, about Pancasila, Pancasila Democracy, Constitution UUD 1945 and The Presidential Governance System. This study proposes that Pancasila contained a solemnity that prioritized religious maintenance, further integrating it to other al-kulliyat al-khamsah. Furthermore, Pancasila Democracy is present as the uniform of the political street of democracy. The Constitution UUD 1945 is a constitution that oriented to Maqasid Shariah in the form of Human Rights to address the pluralism of the ummah. Associated with the Presidential Government System is a mutaghayirat ijtihad. Finnaly, the Unitary State of the Republic of Indonesia NKRI was formed on the basis of ijtihadiyah which is considered to be beneficial and refuse mudharat for Indonesia Abstrak Perbincangan tentang pemerintahan dalam Islam, serta hubungan antara negara dengan agama sejak dulu memang tidak kunjung usai. Memunculkan kekayaan ijtihad umat Islam dalam menelisik landasan intelektual peran negara dan pemerintahan secara Islami. Peolemik yang akhirnya lebih nampak sebagai persoalan ijtihadiyah. Seringkali, timbul pertanyaan tentang kandungan nilai filosofis Islam dalam terbentuknya NKRI. Karenanya artikel ini meneliti konstruksi NKRI dalam pandangan Maqasid Syariah. Kajian ini menggunakan teori Maqasid Syariah yaitu menelisik maksud terdalam dari terbentuknya NKRI beserta komponen yang ada di dalamnya, perihal Pancasila, Demokrasi Pancasila, UUD 1945 dan Sistem Pemerintahan Presidensial. Kajian ini mengajukan temuan bahwa Pancasila mengandung kebermaksudan yang mengutamakan pemeliharaan agama, selanjutnya mengintegral kepada al-kulliyat al-khamsah yang lain. Selanjutnya, Demokrasi Pancasila hadir sebagai pengagamisan jalan politik Hasana research is motivated by the difference of market hygiene condition, where the market hygiene level is influenced by the environment around the market. In general, markets located near densely populated housing tend to be overlooked, while markets near elite housing tend to be clean. This condition is also influenced by marketers' awareness of market hygiene. If the market is near the elite neighbourhood, the level of awareness of sellers on cleanliness will be high. If the market is located in a densely populated area, sellers generally do not pay attention to cleanliness. The purpose of this research is to know the sellers's awareness of environmental cleanliness of Market Bulak, Klender Market and Rawamangun Market. Respondents in this study are sellers and buyers who make transactions in these 3 markets. This type of research is descriptive analysis with the method of observation and interview to 10 sellers in each market. Seller hygiene awareness are semacam NU juga mereka susupi. Ditengarai bahwa kaum Wahabi yang berpaham garis keras telah menyusup ke dalam NU melalui masjid-masjid, majlis-majlis taklim, dan pondok-pondok pesantren yang menjadi basis warga NUParahnyaDiParahnya, organisasi terbesar di Indonesia semacam NU juga mereka susupi. Ditengarai bahwa kaum Wahabi yang berpaham garis keras telah menyusup ke dalam NU melalui masjid-masjid, majlis-majlis taklim, dan pondok-pondok pesantren yang menjadi basis warga NU. 29Anak Ranting Nahdlatul Ulama PARNU 30 yang bertugas merawat masjid, menjadikan masjid sebagai kegiatan sentral dalam pemberdayaan warga NU. Penguatan manajemen organisasi yang baik dalam tubuh NU menjadi kunci utama sehingga NU tetap mampu membumikan nilai-nilai Aswaja An-NahdliyahN U Untuk Hal ItuKini Bergerak Mendirikan PimpinanUntuk hal itu, NU kini bergerak mendirikan Pimpinan Anak Ranting Nahdlatul Ulama PARNU 30 yang bertugas merawat masjid, menjadikan masjid sebagai kegiatan sentral dalam pemberdayaan warga NU. Penguatan manajemen organisasi yang baik dalam tubuh NU menjadi kunci utama sehingga NU tetap mampu membumikan nilai-nilai Aswaja Ahlussunnah wal-Jamâ'ah Terjemah & Syarh 'Aqidah al-'AwamMuhyiddin AbdusshomadAbdusshomad, Muhyiddin. Aqidah Ahlussunnah wal-Jamâ'ah Terjemah & Syarh 'Aqidah al-'Awam. Surabaya Kholista, Islam Indonesia Masih MiskinMuhamad HazairinKompasianaHazairin, Muhamad. Kompasiana. "Orang Islam Indonesia Masih Miskin", 09 Juni 2010. Data diakses pada 4 Desember Moratorium Remisi bagi "Permanenkan Moratorium Remisi bagi Koruptor", Rabu, 2 November 2011. Data ini diakses 4 Desember Pemikiran NU dan Kelompok Islam Lain" dalam Jurnal Tashwirul AfkarSri MulyatiMulyati, Sri. "Pertarungan Pemikiran NU dan Kelompok Islam Lain" dalam Jurnal Tashwirul Afkar, Edisi No. 21 tahun RiyantoRiyanto, Armada. Agama anti Kekerasan;Ebta SetiawanSetiawan, Ebta. 2010. KBBI Offline Versi Manusia Indonesia. Yogyakarta LKiSRadhar DahanaPancaDahana, Radhar Panca. Menjadi Manusia Indonesia. Yogyakarta LKiS, Kemiskinan di Indonesia Masih TinggiRakyat OnlineRakyat Online. "Angka Kemiskinan di Indonesia Masih Tinggi", 30 Desember 2011. Diakses pada 4 Desember 2014.
apa itu aswaja dan salafi